| Source: Unsplash.com |
Johnny: “Eh, kemaren gue abis nonton film Miracle in Cell No. 7. Bagus banget filmnya, gue mewek berdua cewek gue.”.
Leonard: “Oalahh, lo suka film drama juga ya? kok gue baru tau sih, biasanya kan tontonan lo itu kan film-film action, perang, dan sci-fi. Tumben juga lo mau diajak Rosy nonton film drama, biasanya lo ogah-ogahan nonton film di bioskop. Ternyata diem-diem lo suka film drama juga ya.”
Johnny: “Maksudnya film drama, action, sci-fi tuh gimana deh? Gue sih nonton ini karena lagi gak mager aja. Katanya seru. Lagian gue kalo nonton juga sembarang nonton aja. Asal ada dor-dor-dor dan mobil meledak bagi gue seru aja sih.”
Leonard: “Yeeehh, lo suka nonton film tapi lo gatau genre film apa yang lo tonton. Pantesan aja lo mau nonton film itu, orang lo aja gak ngerti genre filmnya. Emang ente nih kadang-kadang ya.”
Johnny: “Wkwkkw. Bikin gw malu aja lo.”.
Mau ngomongin film malah jadi burem gara-gara obrolan kamu sama dia yang gak in line. Malu sih enggak, tapi topik obrolan film kamu jadi terbatas karena kamu gak tau jenis genre-genre film apa yang sebenarnya kamu suka. Nonton cuma sekedar nonton tanpa tau secara spesifik film apa yang selama ini kamu dambakan. Padahal doi kamu aja nonton film karena film itu punya genre khusus yang menjadi pilihannya.
Dulu penulis sendiri pernah mengalami pengalaman seperti itu di sekitar tahun 2017. Penulis diajak nonton film tanpa ngerti genre film apa yang sebenernya mau ditonton. Temen penulis cuma bilang “Yuk nonton ini. Ini film perang, banyak tembak-tembakannya.”. Ketika penulis nonton, emang bener ini tuh film perang, tapi kenapa kok pas perang ada orang kebal, bawa tameng, dan bisa lompat tinggi. Seketika penulis sadar bahwa penulis kurang pengetahuan terhadap genre-genre film yang ada di dunia. Penulis cuma tau kata “perang” dan penulis pikir bakalan sesuai dengan harapan penulis.
Padahal kalau seandainya penulis punya pengetahuan tersebut, penulis bisa menyimpan uang Rp. 50.000 penulis buat makan selama tiga sampai empat hari balik ke tahun 2017. Kalau di tahun sekarang, cukup buat makan dua hari. Gak perlu panjang lebar lagi, kamu pasti udah pada penasaran kan sebenarnya ada genre-genre film apa aja sih di dunia ini? Kamu gak perlu menghafal semuanya, minimal itu kamu berubah dari “gak tahu” menjadi “tahu”, supaya kamu bisa membedakan secara spesifik apa yang kamu suka tonton dan apa yang kamu gak suka. Sebetulnya ada banyak banget genre film di luar sana. Kalau diturunin satu per satu, mungkin ada lebih dari seratus genre film yang beredar. Melalui artikel ini, penulis akan menarik garis besarnya saja dari keseluruhan genre film yang ada.
![]() |
| Source: The Gray Man (2022) |
Action/Aksi
Genre film yang penuh aksi dan gaya dari keseluruhan ceritanya. Biasanya di sepanjang film aksi kamu bakal ditunjukin dengan banyak hal yang membuat kagum dan terdiam. Aksi yang dilakukan pemerannya ini biasanya menantang nyawa, berisiko tinggi, dan melibatkan banyak properti yang harus dikorbankan. Apalagi kalau ditambah dengan jalan cerita yang megah. Hal gila yang kadang harus diperankan oleh pemeran film di antara lain memanjat gedung skyscraper, lompat dari helikopter, berantem di atas menara eiffel, bahkan meledakan gedung. Contoh film dengan genre aksi adalah: Rush Hour (1998), The Gray Man (2022), Top Gun (1986).
![]() |
| Source: How to Train Your Dragon (2010) |
Animation/Animasi
Genre film ini pada dasarnya lebih rumit karena untuk memproduksinya memerlukan kemampuan untuk menggambar dan menguasai software animasi. Yang menjadi perbedaan utama dari film animasi dan film pada umumnya adalah cara penyampaiannya. Kalau film biasa menggunakan manusia dalam menyampaikan pesan, film animasi menggunakan tokoh karakter animasi untuk menyampaikannya. Karakter animasi ini harus digambar dan digerakan di setiap detiknya, sehingga terjadi keberlanjutan gambar, dan menimbulkan efek pergerakan/animasi. Meskipun telah melalui proses yang rumit, namun banyak orang yang melihat animasi sebagai bentuk hiburan untuk anak-anak. Padahal dalam kenyataannya ada banyak animasi yang juga mempunyai target pasar orang dewasa. Contoh film dengan genre animasi: ChalkZone (2002), The Sea Beast (2022), How to Train Your Dragon (2010).
![]() |
| Source: Man vs. Bee (2022) |
Comedy/Komedi
Genre film yang fokusnya buat bikin orang ketawa. Biasanya film komedi ini gak punya cerita yang bisa bikin berkesan di otak penontonnya. Karena tujuan utama dari film komedi adalah supaya orang terhibur dari perilaku yang ditunjukan pemainnya. Tapi seiring berjalannya waktu, film komedi sekarang banyak digabungkan dengan kombinasi genre film lain. Penonton gak cuma ketawa aja, tapi juga ada unsur film lain yang bisa menjadi fokus penonton. Misalnya aksi/komedi, romantis/komedi, dan masih banyak lagi genre film yang bisa digabungkan. Contoh film dengan genre komedi: Cek Toko Sebelah (2016), Mr. Bean (2002), Man vs. Bee (2022).
![]() |
| Source: Knives Out (2019) |
Crime/Kriminal
Genre film ini dikhususkan buat kamu yang suka main kucing-kucingan. Suka berpikir keras dan punya ketertarikan dengan dunia polisi dan detektif. Yang membuat genre film ini menarik adalah rasa penasaran dan gregetan yang seringkali disusupin di adegan-adegan tertentu film. Bagi sebagian orang, mungkin genre film ini bakal menimbulkan rasa bosan karena alur ceritanya yang seringkali berkaitan dengan hukum, keadilan sosial, dan investigasi kasus. Tapi ketika kamu udah berhasil masuk ke dalam ceritanya, kamu akan dibuat penasaran dengan bagaimana akhir dari tindak kriminal yang ada di cerita. Contoh film dengan genre kriminal: Se7en (1995), Knives Out (2019), Murder on The Orient Express (1974).
![]() |
| Source: The Fault in Our Stars (2014) |
Drama/Drama
Genre film ini pada dasarnya memiliki keterkaitan yang kuat dengan konflik dan hubungan yang terlihat nyata dan umum terjadi di kehidupan manusia. Pada dasarnya, drama memiliki genre turunan yang sangat luas. Misalnya drama remaja, drama politik, drama filosofi, drama hukum. Genre ini juga merupakan salah satu genre yang paling banyak diminati oleh orang. Karena ceritanya yang cenderung menyentuh kehidupan nyata, dan memiliki nilai emosional yang tinggi. Contoh film dengan genre drama: Purple Hearts (2022), The Fault in Our Stars (2014), Titanic (1997).
Itu tadi baru sebagian kecil dari genre film yang jumlahnya bisa mencapai ratusan kalau diturunkan. Ketika kamu mengetahui dan mempelajari perbedaan dari masing-masing genre film, kamu akan menyadari bahwa kamu memperoleh manfaat dari pengetahuan tersebut.
| Source: unsplash.com |
Kamu akan menghemat waktu
Kamu gak lagi asal-asalan nonton film. Kamu udah tau secara spesifik genre apa yang selama ini kamu sukai. Kamu jadi lebih mudah untuk memilah dan gak perlu satu per satu nonton film secara berantakan tanpa mengetahui lebih dahulu genre film apa yang kamu tonton. Waktu kamu akan kesimpan banyak disitu, dan bisa kamu alih fungsikan untuk tontonan lain dengan genre yang sesuai dengan kesukaan kamu.
| Source: unsplash.com |
Obrolan jadi nyambung dengan sesama movie lovers
Kamu gak lagi asal-asalan nonton film. Kamu udah tau secara spesifik genre apa yang selama ini kamu sukai. Kamu jadi lebih mudah untuk memilah dan gak perlu satu per satu nonton film secara berantakan tanpa mengetahui lebih dahulu genre film apa yang kamu tonton. Waktu kamu akan kesimpan banyak disitu, dan bisa kamu alih fungsikan untuk tontonan lain dengan genre yang sesuai dengan kesukaan kamu.
| Source: unsplash.com |
Eksplorasi film dengan lebih gampang
Kamu gak bakal bingung lagi kalo nyari ide tontonan. Kalo kamu biasanya scrolling film tanpa di sortir. Sekarang kamu bisa lebih gampang nemuin ide tontonan dengan cara ngetik genre film yang kamu cari di pencarian, atau dengan fitur sortir. Langsung deh tuh ketemu daftar lengkap film dengan genre spesifik yang kamu cari. Simpel kan?
| Source: unsplash.com |
Pengetahuan yang lebih luas
Kalo kamu punya pengetahuan yang luas, tentunya kamu akan memiliki daya tarik yang lebih tinggi kan. Siapa tau dengan pengetahuan yang kamu punya itu suatu saat kamu bisa bekerja di sebuah production house, atau di perusahaan media perfilman.
| Source: unsplash.com |
Bisa memberikan rekomendasi
Kamu udah siap memberikan rekomendasi film berdasarkan genre yang kamu ketahui. Misalnya ada yang nanya “saranin film horror based on true story dong” kamu bisa dengan mudah jawab “nih cobain The Exorcist (1973)”. Tapi balik lagi sih, genre film apa yang kamu suka dan kuasain. Kamu gak dituntut buat mengerti semuanya, karena manusia punya waktu yang terbatas untuk mempelajari setiap hal.
FINAL WORDS
Wah! penulis mengucapkan terima kasih
udah baca sampai sejauh ini. Penulis yakin dan percaya kamu pasti sudah siap
untuk menyebarkan informasi yang kamu punya ke teman-teman terdekat kamu. Kamu
juga sudah siap untuk mengunjungi Instagram Beneath Mind untuk melakukan eksplorasi tontonan sesuka hati kamu. Gak lagi
kebingungan deh ketika nyari tontonan buat bingewatch malam ini. Konten
penulis memberikan kamu wawasan, inspirasi, dan ide tontonan yang bisa kamu
gunakan sebagai bahan pertimbangan sebelum menonton sebuah film. Tujuannya agar
waktu kamu bisa terpakai dengan lebih baik lagi, daripada kamu cape-cape nonton
ternyata tontonannya itu gak bermanfaat dan gak menarik. Kasian dompet kamu
udah ngeluarin uang cuma buat nonton film yang gak memiliki kesan yang baik.
Kamu juga boleh banget mengunjungi Twitter Beneath Mind supaya mendapat tulisan
kecil yang bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi kamu. Bedanya dengan
Instagram, Twitter ini sifatnya lebih personal dan gak terlalu spesifik
membahas mengenai film. Kamu bakal mengetahui kehidupan personal penulis, dan
juga akan menemukan beberapa pelajaran hidup yang penulis telah bagikan. Kamu
bisa nilai sendiri, berguna atau engga.
Kalau kamu mau eksplorasi film secara
lengkap, yuk kunjungi Instagram Beneath Mind sekarang juga. Kamu juga bisa nyalain notifikasi dan klik tombol follow
supaya kamu gak ketinggalan dengan film-film terbaru yang bakal hadir setiap
harinya menemani perjalanan scrolling kamu. Terakhir dari penulis, kamu
boleh banget nyebarin tulisan ini ke teman-teman terdekat kamu. Penulis tau
mereka juga butuh tulisan ini, seperti kamu yang membutuhkan penulis *ehm.













